Jika Anda Takut Atau Malas Menelpon Pelanggan

Beberapa salesman malas menelpon ulang calon pelanggannya dikarenakan menganggap hal ini cuma akan membuang-buang waktu saja. Sebenarnya merekalah yang sedang membuang-buang kesempatan untuk berhubungan dengan pelanggan.

Takut Atau Malas Menelepon Pelanggan

Saya bukanlah seorang salesman yang baik. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang dipikirkan oleh pelanggan saat berhubungan dengan salesman. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi para salesman.

Begini, suatu siang saya mendapat telpon dari seorang tenaga penjual dari sebuah kantor kartu kredit. Saya tahu, ia akan menawari saya semacam pinjaman lunak. Saya pernah mengambil pinjaman tersebut satu kali. Itu pun sudah sangat lama sekali. Setelah itu saya tidak pernah mengambil pinjaman seperti itu lagi, meski berkali-kali kantor kartu kredit itu menelpon dan menawari. Saya menolak tawaran mereka karena memang sedang tidak ada keperluan.

Biasanya saya memberi sedikit waktu bagi salesman untuk menerangkan tawaran mereka. Lalu saya sampaikan bahwa saya sedang tidak memerlukan. Seperti yang anda duga, salesman akan merajuk dan sedikit memaksa. Namun karena saya benar-benar tidak memerlukan saya berkata tegas bahwa saya tidak bisa mengambil tawaran tersebut.

Siang itu saya sedang rapat manajemen dan tidak bisa diganggu. Ketika telpon genggam saya berdering, saya keluar ruangan dan menerima telpon. Di seberang, seorang salesman, lebih tepatnya seorang perempuan memperkenalkan diri, memastikan nama saya dan mulai menawari saya pinjaman lunak. Tanpa menunggu lebih lama, saya katakan bahwa saya sedang rapat dan tidak diganggu. Saya minta ia menelpon kembali saat rehat, sekitar jam tiga siang. Si salesman mengiyakan dan mengatakan akan menelpon saya jam tiga siang. Kemudian percakapan terputus.

Jam tiga siang saya rehat. Sembari merenggangkan pikiran, saya menunggu-nunggu telpon dari salesman kartu kredit yang tadi menawarkan pinjaman lunak. Sampai jam rehat selesai, ia tidak menelpon saya. Bahkan sampai rapat usai, saya masih menunggu telpon dari salesman tersebut.

Mengapa saya menunggu telpon dari salesman kartu kredit tadi? Pertama karena saya sedang berpikir untuk mengambil pinjaman lunak yang ditawarkan. Kedua, saya sudah berjanji dan menyediakan waktu di jam tiga. Ketika saya tahu si salesman tidak jua menelpon sesuai waktu yang ditentukan, saya sedikit kecewa. Saya pun punya beberapa pandangan negatif tentang salesman tadi, sebagai berikut:

  • Ia tidak sungguh-sungguh menawarkan produk atau jasanya
  • Ia kurang gigih dalam menjalankan tugasnya
  • Ia tidak bisa menepati janji dan tidak bisa dipercaya
  • Ia tidak menjaga reputasi diri dan perusahaan tempatnya bekerja
  • Ia bersikap tidak profesional
  • Ia tidak berusaha melayani dan memuaskan pelanggan
  • Ia kurang serius dalam menepon pelanggan
  • Ia meremehkan kesediaan saya untuk ditelpon kembali
  • Ia mengabaikan kesempatan yang sudah diberikan
  • dan lain-lain

Apakah anda, sebagai salesman, pernah berhadapan dengan seorang pelanggan seperti yang saya ceritakan di atas? Jika ya, apakah anda akan menelpon saya di jam tiga siang? Atau, anda menganggap saya secara halus sedang menolak anda dan merasa tidak ada gunanya menelpon saya kembali? Jika anda tidak menelpon saya lagi, pikirkan hal ini:

Bukankah anda sudah berjanji untuk menelpon? Janji harus ditepati. Itu adalah sikap seorang profesional. Meski mungkin pelanggan tidak jadi membeli produk anda, anda tetap harus menunjukkan sikap sungguh-sungguh ingin berhubungan dengan pelanggan.

Pelanggan membutuhkan produk anda. Pelanggan yang meminta anda menelpon kembali tidak selalu berarti sedang secara halus menolak anda. Mungkin saja ia sedang sangat sibuk namun sebenarnya ingin lebih tahu tentang produk anda sehingga ia menyediakan waktu yang lebih longgar.

Anda mendapat kesempatan kedua yang lebih baik. Mungkin anda merasa kehilangan kesempatan pertama. Namun bukankah pelanggan memberikan anda kesempatan kedua yang lebih baik, dimana anda bisa berbicara dan menawarkan produk dengan lebih jelas dan leluasa.

Pelanggan memberikan waktu yang lebih longgar bagi anda. Mungkin waktu yang disediakan oleh pelanggan tidak match dengan jadwal anda sendiri. Namun anda harus mempertimbangkan, bahwa tidak akan ada kesempatan ketiga. Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini.

Anda bisa merencanakan lebih baik. Bersyukurlah karena kini anda punya rentang waktu untuk mempersiapkan penawaran anda lebih baik lagi. Selama menunggu waktu yang telah ditentukan anda bisa berlatih, berlatih dan berlatih lebih baik.

Salesman yang sukses tidak akan menyia-nyiakan kesempatan meski sangat sempit. Salesman yang buruk tidak akan menelpon balik karena menganggap ia telah ditolak dan hanya akan membuang-buang waktu saja. Tapi, bukankah itu semua hanya anggapan saja? Jangan buang kesempatan berdasarkan anggapan atau asumsi. Bisa jadi anggapan tersebut berasal dari rasa malas atau takut saja. Padahal kita tahu, dua hal yang menghadang kita dari keberhasilan adalah malas dan takut. Semoga sukses.