Tips Menjadi Pendengar Yang Baik

Sebagian orang merasa lebih cerdas dengan berbicara lebih banyak dan suka memotong ucapan orang lain. Padahal sebaliknya, yang membuat orang tampak lebih cerdas adalah kemampuan mendengarkan dengan baik.

tips-menjadi-pendengar-yang-baik

Salah satu hal yang disukai dari seorang pemimpin yang baik adalah mereka juga pendengar yang baik. Melalui indera pendengaran, mereka mencerap banyak informasi, mendapat masukan berharga dan memahami apa yang ingin disampaikan oleh orang lain.

Mendengarkan merupakan salah satu cara efektif dalam memberikan perhatian pada orang lain, sekaligus membuat anda tampak kompeten dan cerdas. Dalam dunia usaha, mendengarkan adalah salah satu kualitas dalam bernegosiasi. Agar negosiasi anda berhasil, anda harus tahu apa yang dimaui oleh mitra kerja dan apa yang harus dilakukan agar mereka mau memberikan hasil yang diharapkan. Cara paling efektif untuk mengetahui hal ini adalah dengan mendengarkan mereka.

Mendengarkan adalah sebuah ketrampilan yang harus diasah. Beberapa tips untuk meningkatkan kemampuan anda mendengarkan adalah sebagai berikut:

Diam. Pepatah mengatakan, saat mulut terbuka, telinga tertutup. Saat berbicara anda tak dapat mendengarkan. Jangan kuatir, diamnya orang yang mendengarkan takkan terlihat bodoh.

Berusahalah mendengarkan. Mendengarkan adalah tindakan aktif. Ia merupakan sebuah upaya, sebuah kesengajaan yang membutuhkan persiapan, juga kesediaan diri anda.

Pusatkan perhatian lebih besar. Saat mendengarkan, dengarkan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. Curahkan perhatian dan pikiran anda pada pembicara dan isi yang ingin disampaikan. Acuhkan suara-suara lain di sekitar anda.

Dengarkan hanya pada satu pembicara. Bila ada banyak pembicara, pusatkan perhatian hanya pada satu pembicaraan pada satu waktu tertentu. Anda tak bisa mendengarkan banyak orang pada saat yang bersamaan.

Dengarkan dengan pikiran dan hati terbuka. Mendengarkan menuntut kesediaan dan kerelaan anda. Kualitas pribadi anda tampak dari bagaimana anda mendengarkan lawan bicara. Anda hanya dapat memahami maksud orang lain hanya bila pikiran dan hati anda terbuka.

Jangan mendengarkan untuk memberi pendapat. Terlebih lagi, jangan berpura-pura mendengarkan hanya untuk menunggu waktu yang tepat untuk menyela, membantah dan mendebat lawan bicara.

Tahan diri anda. Ini bagian yang paling berat. Kendalikan nafsu anda untuk berbicara. Biarkan lawan bicara menuntaskan pembicaraannya. Meski anda gatal ingin mengomentari, sebaiknya tetap santai saja. Bila anda mulai kesal dan marah, sampaikan ketidaksetujuan anda dengan tegas. Tak ada gunanya mendengarkan saat marah.

Perhatikan bahasa tubuh. Tunjukkan bahasa tubuh yang terbuka. Hadapkan tubuh anda pada pembicara. Hilangkan perintang antara anda dan pembicara, seperti kursi, meja, juga tangan bersendekap di dada. Lakukan kontak mata. Amati intonasi dan bahasa tubuh pembicara untuk mendapatkan lebih banyak pemahaman.

Berikan pertanyaan terbuka, bukan penilaian. Bila anda ingin menyela, lakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka (open question). Seperti, “Mengapa anda tidak setuju dengan bagian ini.”

Biarkan ada jeda. Saat pembicara berhenti sejenak, tak perlu terburu-buru untuk berbicara. Gunakan waktu jeda untuk berpikir dan menemukan pengertian. Biarkan lawan bicara melanjutkan pembicaraan. Berbicaralah saat benar-benar lawan bicara anda menuntaskan pesannya.

Ulangi perkataan mereka. Tentu saja anda tak harus diam seribu bahasa. Anda tetap bisa berinteraksi. Anda bisa mengucapkan sesuatu untuk memberikan tekanan, perhatian, mengulangi, bertanya. Bahkan, ucapan, oh ya?, begitukah?, sungguh?, hmmm…, perlu anda sampaikan.

Buat catatan. Tak semuanya bisa anda ingat. Sesekali anda bisa mencatat hal-hal penting. Anda bisa meminta lawan bicara berhenti sejenak agar anda bisa mencatat dengan baik.

Jangan Menjadi Bos Yang Menyebalkan

Pernahkah anda mengamati perilaku kebanyakan entrepreneur? Dari kacamata positif, mereka biasanya tampil penuh kebanggaan dan percaya diri. Berbeda dengan seorang pegawai yang seringkali merasa khawatir akan kehilangan pekerjaannya. Entrepreneur tak takut pada apa yang akan terjadi karena mereka tak bergantung pada siapa-siapa selain diri mereka sendiri. Mereka siap dan berani menanggung resiko-resiko yang telah diperhitungkan. Mereka telah menempa mental menjadi kuat.

bos Yang Menyebalkan

Di sisi lain, keberhasilan dan sikap mental yang meluap-luap membuat beberapa entrepreneur merasa memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding orang lain, terutama pegawainya sendiri. Mereka berpikir mereka mempunyai kekuasaan atas pegawainya. Bahkan tak sedikit yang menganggap mereka bisa mengendalikan nasib pegawainya. Pola pikir semacam ini membuat beberapa entrepreneur bertindak “bossy” atau sok menjadi bos yang menyebalkan dan suka membully bawahannya.

Tindakan entrepreneur yang “bossy” semacam ini tentu tidak disukai pegawainya. Pada ujungnya bisa merugikan perusahaan karena pegawai tidak akan bekerja dengan sepenuh hati. Berikut beberapa hal berikut untuk menghindarkan anda menjadi bos yang menyebalkan.

Jangan suka mempermalukan orang lain. Bos yang menyebalkan suka mempermalukan orang lain di depan umum. Ia senang menghina, menghancurkan harga diri dan merusak ego orang lain, terutama bawahannya. Mereka merasa lebih unggul, lebih tinggi dan lebih berkuasa sehingga menganggap bisa melakukan apa saja. Namun hal ini tidak akan menjadikan perusahaan lebih baik. Sebaliknya, orang lain dan karyawan akan menanam bibit dendam pada sang entrepreneur dan perusahaan. Dendam itu bisa terbalaskan. Dan bila itu terjadi, akan merugikan perusahaan dan reputasi sang entrepreneur.

Jangan meremehkan pekerjaan orang lain. Pelayan restoran, kasir toko, juru parkir, petugas keamanan dan berbagai profesi lain seringkali dianggap rendah dan jadi obyek penghinaan oleh bos yang menyebalkan. Mereka tidak menyadari bahwa pekerjaan-pekerjaan itu adalah bagian yang tak kalah penting dalam suatu perjalanan usaha.

Jangan bergaul dengan bos-bos yang menyebalkan. Sikap menyebalkan akan menemukan pembenaran saat seorang bos bergaul dengan bos-bos lain yang tak kalah menyebalkan. Agar terhindar dari perilaku buruk ini, seorang entrepreneur harus pandai-pandai menjaga jarak dan pergaulan dari bos-bos yang menyebalkan pula. Selain itu, tak perlu bersusah payah mengubah bos lain yang menyebalkan menjadi lebih beradab. Tinggalkan saja mereka daripada tertular.

Ada banyak pekerjaan yang tidak bisa anda kerjakan dengan baik. Bos-bos yang menyebalkan suka menutup mata bahwa sebenarnya mereka tidak bisa melakukan semua hal sendiri. Bahkan ada banyak pekerjaan yang mereka tidak bisa mengerjakannya dengan baik, malah sangat buruk. Sadarilah bahwa seorang entrepreneur tetap membutuhkan orang yang mampu bekerja lebih baik. Itu bisa menumbuhkan sikap hormat pada orang lain.

Temukan kesamaan bukan perbedaan. Di antara kita yang berbeda ini selalu bisa direkatkan dengan kesamaan-kesamaan. Itu bisa berupa kesamaan ide, tujuan, kegemaran dan lain-lain. Merasa sama membuat seseorang tidak sendiri. Sebaliknya memusatkan perhatian pada perbedaan-perbedaan hanya akan memperkeruh suasana hati. Hati yang keruh adalah sarang sikap-sikap yang menyebalkan.

Fokus pada situasi menang-menang. Selalu berpikir dan berupaya untuk menciptakan situasi menang-menang adalah tanda kematangan seorang entrepreneur. Bila seorang entrepreneur hanya berpikir untuk kemenangan dirinya sendiri dan berupaya untuk mengalahkan orang lain, maka apa bedanya mereka dengan anak kecil yang cuma ingin merebut kelereng teman-temannya. Justru entrepreneur yang berjiwa besar menyadari bahwa hidup ini saling terhubungkan dan saling bergantung satu sama lain. Saat saling membutuhkan, tidak ada pihak lain yang harus dikorbakan.

Sadari apakah anda sudah cukup bahagia? Semua sikap “bossy” yang menyebalkan itu biasanya bermula dari masalah psikologis yang diderita oleh sang entrepreneur itu sendiri. Mereka mungkin memiliki masa lalu yang kurang mengenakkan, jiwanya diselimuti oleh rasa tak puas, iri, takut, cemas, dan lain-lain. Oleh karena temukan kebahagiaan, maka sedikit demi sedikit sikap menyebalkan itu akan hanyut dan hilang.

Seorang entrepreneur semestinya membangun perusahaannya dengan penuh adab dan etika. Tujuan sebuah bisnis tidak semata untuk memenangkan persaingan, mendulang laba sebanyak-banyaknya, melainkan menjalankan sebuah peran penting bagi kehidupan. Itu dimulai dari diri sang pengusaha itu sendiri dalam berpikir, bertindak dan bersikap. Menjadi bos yang menyebalkan bukanlah pilihan saat seorang entrepreneur ingin menjalankan usahanya dengan sehat, menjaga reputasi dan integritas yang mulia.

Rakyat Memimpikan Pemimpin Yang Baik

Kinerja partai politik menggerus kepercayaan rakyat. Partisipasi politik pun merosot. Hal ini menandakan konsolidasi demokrasi tersendat di tubuh partai, juga tertatih di tingkat akar rumput. Namun, masyarakat pun tak akan terus diam jika demokrasi dipangkas hanya sebatas prosedur tanpa substansi.

Dalam 33 ajang pemilihan kepala daerah di Jawa Barat pada 2005-2011, hampir separuh pesertanya merupakan pasangan calon perseorangan atau nonpartai. Namun, calon perseorangan hanya menang pada satu pilkada, yakni pasangan Aceng Fikri-Dicky Chandra memenangi Pilkada Kabupaten Garut (2008).

Terpilihnya calon perseorangan itu diyakini menandakan kekecewaan masyarakat pada kinerja partai politik di Garut. Pandangan tersebut juga tak dimungkiri kalangan parpol. ”Semua partai di Garut rusak, tidak ada dukungan penuh partai pada calon-calon yang diajukan. Akhirnya yang menang calon perseorangan,” ujar Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jawa Barat Rudy Harsa Tanaya.

Namun, dua tahun setelah memerintah, Bupati Garut ini justru bergabung dalam kepengurusan Partai Golkar Jawa Barat. Guru Besar Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Dede Mariana berpendapat, bergabungnya Aceng dalam pengurusan Golkar tersebut terkait dengan lemahnya dukungan politik dari DPRD Garut kepada Bupati. Kesulitan Bupati itu menunjukkan kegagalan politisi di DPRD memahami makna kepentingan publik.

Secara umum di berbagai daerah lain di Jawa Barat, pilkada lebih banyak dimenangi petahana atau orang yang didukung petahana. Dari 33 pilkada, 17 pilkada dimenangi petahana (bupati), belum termasuk yang dimenangi petahana wakil bupati dan keluarga bupati.

Terpilihnya kembali petahana sebenarnya tidak berkorelasi dengan kepuasan masyarakat terhadap kinerjanya dalam kepemimpinan daerah. Hal itu dapat disimpulkan dari perkembangan pembangunan yang belum signifikan di daerah yang masih dimenangi petahana di Jabar.

Supadi, pengemudi becak di Kapetakan, Cirebon, misalnya, tetap memberikan suaranya untuk bupati petahana yang diusung PDI-P meskipun belum ada perubahan lebih baik di kampungnya. Saat paceklik tiba, buruh tani di daerahnya juga masih kesusahan. Bahkan mereka pun beralih makan nasi aking karena beras kian mahal.

”Saya bertahan milih PDI-P, karena masih ada harapan yang saya pilih bisa mengubah kesusahan kami. Kan mereka juga dari orang susah,” katanya.

Meskipun masih ada dominasi parpol besar dan petahana, mulai tampak kecenderungan menurunnya kepercayaan masyarakat pada patron politik di daerahnya. Di Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memang tak tergeser dari perolehan suara tertinggi sejak era reformasi dalam pemilihan anggota legislatif dan pilkada. Namun, berbeda dengan beberapa pilkada sebelumnya, pada pilkada 9 Januari 2011 pasangan calon yang diusung PPP bersama PDI-P terpilih sebagai pemenang hanya dengan mengantongi 32 persen suara atau tidak dipilih mayoritas pemilih.

Koordinator Tasik Corruption Watch Dadih Abdulhadi menilai hal itu menunjukkan melemahnya pengaruh kiai yang selama ini turut mendongkrak perolehan suara PPP. ”Pengaruh kiai turun drastis karena kepercayaan kepada kiai yang berpolitik luntur. Masyarakat mulai belajar menentukan pilihan sendiri,” ujarnya.

Di Kota Cirebon, jumlah kursi untuk PDI-P di DPRD juga turun dari enam kursi (2004) menjadi lima kursi (2009). Jumlah kursi Partai Golkar di Kota Cirebon juga merosot dari delapan kursi (2004) menjadi lima kursi (2009). PPP dan PKB bahkan sama sekali kehilangan kursi di DPRD Kota Cirebon.

Sementara itu, di Kabupaten Cirebon, PKB yang menguasai kantong-kantong pesantren tak bisa melebarkan sayap mengambil suara di luar dinding pesantren. Hal itu diyakini terkait dengan kesenjangan ekonomi dan sosial yang tak bisa dijembatani kalangan santri.

Pesantren-pesantren di Cirebon dikelilingi daerah yang tergolong miskin. Pesantren Buntet yang berada di Desa Buntet, Kecamatan Astana Japura, Kabupaten Cirebon, bahkan bersebelahan dengan kampung pengemis di Desa Sidamulya. Pada bulan Ramadhan, anak-anak usia sekolah di kampung itu membolos untuk mengemis di jalanan. Kawasan tersebut memang daerah pertanian tadah hujan yang tak banyak menjanjikan kesejahteraan.

Menurunnya dukungan pada partai besar yang sebelumnya mendominasi juga tak lepas dari fenomena pemilih muda yang tidak lagi mengacu pada patron.

Para pemilih muda relatif kritis terhadap isu politik, termasuk korupsi. Namun, mereka cenderung enggan memberikan suara pada pemilu atau pilkada. Selain ketidakpercayaan pada partai, hal itu juga disebabkan para pemilih muda kesulitan menjangkau informasi seputar figur yang dicalonkan partai.

Akibatnya, partisipasi pemilih pun merosot. Di Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, partisipasi pemilih pada Pilkada 2006 terhitung 73 persen. Tingkat partisipasi itu merosot pada pilkada Januari 2011 menjadi 62 persen.

Sebenarnya, harapan untuk menemukan pemimpin yang dapat dicintai tak pernah mati. Dengan caranya sendiri, masyarakat, terutama pemilih muda, juga berusaha menemukan pemimpin dan wakil rakyat yang lebih baik. Nana (19), mahasiswa di Kota Cirebon, mengaku memilih Partai Demokrat 2009 karena tokoh Susilo Bambang Yudhoyono yang ia anggap berkinerja baik. Namun, kini Nana tidak yakin akan kembali memilih Demokrat karena dianggapnya tak lagi berprestasi.

Sementara Subhan (19), juga mahasiswa di Cirebon, memilih Partai Keadilan Sejahtera (PKS) karena menilai partai itu lebih nyata bekerja di masyarakat.

Ketua Majelis Pakar DPC PPP Kabupaten Tasikmalaya Basuki Rakhmat mengakui, partai-partai lama yang mengandalkan pemilih tradisional memang akan kehabisan dukungan suara. Pemilih PPP di Tasikmalaya, misalnya, kebanyakan berusia di atas 45 tahun. Karena itu, partai seperti PPP memang harus mulai merancang program untuk menggaet pemilih pemula.

Menurut Basuki, dalam pencalonan kepala daerah, misalnya, elite partai cenderung amat cair dalam urusan berkoalisi dengan partai lain. Namun, di tingkat akar rumput sangat mungkin terjadi penolakan. Itu bisa menjadi perkara yang luput dari pertimbangan elite partai.

Ketua DPD PDI-P Jabar Rudy Harsa juga mengakui pentingnya memperkuat kelembagaan partai di tingkat akar rumput. ”Harus ditingkatkan juga persentuhan anggota DPRD I, II, dan anggota DPR (pusat) dengan rakyat di daerah pemilihan mereka. Jangan cuma Bu Megawati bicara, tetapi mesin partai enggak berbuat apa-apa di bawah,” ujarnya.

Budayawan Cirebon, Ahmad S Alwy, mengingatkan, pemilih rasional sebenarnya hanya akan ada apabila parpol juga memberikan pilihan yang rasional.

Kredibilitas Inti Kepemimpinan Unggul

Saya terkejut membaca berbagai harian dan agak prihatin dengan keinginan beberapa anggota DPR yang mau membubarkan KPK. Hal ini menunjukkan arogansi yang seharusnya mengedepankan kepentingan rakyat dengan ikut memberantas korupsi dan bukan menjadi bagian yang menghalanginya.

Merajalelanya kasus korupsi menunjukkan lemahnya kualitas kepemimpinan di Indonesia, di mana karakter dan kredibilitas yang seharusnya menjadi inti (DNA) kepemimpinan saat ini menjadi barang langka dan diabaikan. Kepemimpinan saat ini lebih ditekankan pada kedudukan, kekayaan, dan perkoncoan. Ini merupakan hasil pembinaan kepemimpinan selama Orde Baru.

Kepemimpinan terkait dengan adanya hubungan pengaruh antara pemimpin dan pengikut. Hubungan ini ditentukan oleh kedudukan dan pribadi sang pemimpin. Dari sisi kedudukan, seorang pemimpin diikuti perintahnya karena jabatannya mengandung legitimasi untuk memerintah, kemampuan memberikan imbalan dalam bentuk harta/kekuasaan, kemampuan memberikan sanksi/hukuman jika perintahnya tidak diikuti, dan hubungannya dengan seorang yang memiliki kekuasaan serta harta, yang dikenal dengan referent power.

Dari sisi pribadi, pemimpin dipatuhi oleh pengikutnya karena kharisma atau kredibilitasnya. Kharisma menjadi bahan diskusi, karena banyak pemimpin dengan karya besar yang secara nyata tidak memiliki kharisma bawaan sejak lahir, tapi terbentuk karena kredibilitas tinggi yang dimilikinya.

Di Indonesia, pemimpin cenderung diikuti karena kedudukannya, yaitu jabatan, kekayaan, dan hubungannya dengan penguasa. Akibatnya, terjadi arogansi kekuasaan, korupsi merajalela, dan ketidakadilan di mana-mana. Siapa kuat dia tetap berkuasa walaupun sudah jelas melakukan penyelewengan.

Masalah kredibilitas (termasuk harga diri) lupakan saja. Bekas narapidana karena membunuh dan korupsi pun masih dihormati dan disanjung-sanjung. Selama kita hanya menghargai kedudukan dan harta maka Indonesia tidak akan maju, karena akan dipimpin orang-orang tanpa kredibilitas, yang hanya memikirkan kepentingan sendiri dan kelompoknya, tanpa memikirkan kepentingan bangsa atau rakyat.

Watak Mulia

Prinsip universal merupakan prinsip yang mendasari hubungan antarmanusia agar dapat hidup bersama secara selaras dan sejahtera, seperti kejujuran, keadilan, kebersamaan, tanggung jawab, ketegasaan, empati, dan saling menolong/memberi. Sebagai manusia kita bebas memilih, apakah akan hidup sesuai prinsip universal atau tidak. Kita boleh melanggar hukum gravitasi dan hukum alam yang lain, tetapi kita akan celaka. Demikian juga kita boleh melanggar prinsip universal dengan akibat timbulnya konflik, kekacauan, kemiskinan, dan kesengsaraan.

Pemimpin yang unggul akan mengutamakan watak mulia dengan berpedoman pada prinsip universal dalam tingkah lakunya, terutama kejujuran, keadilan, dan kebersamaan.

Setelah memiliki watak mulia, seorang pemimpin agar efektif perlu mengembangkan kompetensi memimpin dan kompetensi profesi. Pembinaan kepemimpinan di Indonesia umumnya hanya ditujukan meningkatkan kedua kompetensi ini dan sering mengabaikan pembinaan watak mulia ataupun kredibilitas, yang sebenarnya menjadi inti atau DNA (pemberi sifat) dari kepemimpinan unggul.

Untuk membangun watak mulia bagi calon pemimpin Indonesia masa depan, pertama, orangtua di rumah perlu menjadi teladan tentang prinsip-prinsip universal bagi putra putrinya. Kedua, pemerintah menanamkan prinsip-prinsip universal melalui pendidikan budi pekerti, yang dimulai dari pendidikan dasar. Ketiga, media massa ikut menanamkan nilai-nilai universal, baik melalui TV, media cetak, radio, film, maupun media elektonik lainnya. Keempat, perlu disusun sistem pembinaan kepemimpinan berbasis kredibilitas bagi para calon pemimpin bangsa, seperti mahasiswa, anggota partai politik, pejabat pemerintah, dan pejabat BUMN.

Kelima, masyarakat mengubah cara pandang yang lebih menghargai watak mulia daripada jabatan dan harta, serta pilihlah pemimpin yang berwatak mulia.

Upaya di atas bersifat pembinaan yang membutuhkan waktu lama. Oleh karena itu, upaya ini harus tetap diiringi gerakan pemberantasan korupsi dalam berbagai bentuk, termasuk upaya yang ditempuh KPK. Perlu diingat tiada bangsa yang dapat maju dan sejahtera jika korupsi masih merajalela.