Tips Menjadi Pendengar Yang Baik

Sebagian orang merasa lebih cerdas dengan berbicara lebih banyak dan suka memotong ucapan orang lain. Padahal sebaliknya, yang membuat orang tampak lebih cerdas adalah kemampuan mendengarkan dengan baik.

tips-menjadi-pendengar-yang-baik

Salah satu hal yang disukai dari seorang pemimpin yang baik adalah mereka juga pendengar yang baik. Melalui indera pendengaran, mereka mencerap banyak informasi, mendapat masukan berharga dan memahami apa yang ingin disampaikan oleh orang lain.

Mendengarkan merupakan salah satu cara efektif dalam memberikan perhatian pada orang lain, sekaligus membuat anda tampak kompeten dan cerdas. Dalam dunia usaha, mendengarkan adalah salah satu kualitas dalam bernegosiasi. Agar negosiasi anda berhasil, anda harus tahu apa yang dimaui oleh mitra kerja dan apa yang harus dilakukan agar mereka mau memberikan hasil yang diharapkan. Cara paling efektif untuk mengetahui hal ini adalah dengan mendengarkan mereka.

Mendengarkan adalah sebuah ketrampilan yang harus diasah. Beberapa tips untuk meningkatkan kemampuan anda mendengarkan adalah sebagai berikut:

Diam. Pepatah mengatakan, saat mulut terbuka, telinga tertutup. Saat berbicara anda tak dapat mendengarkan. Jangan kuatir, diamnya orang yang mendengarkan takkan terlihat bodoh.

Berusahalah mendengarkan. Mendengarkan adalah tindakan aktif. Ia merupakan sebuah upaya, sebuah kesengajaan yang membutuhkan persiapan, juga kesediaan diri anda.

Pusatkan perhatian lebih besar. Saat mendengarkan, dengarkan apa yang diucapkan oleh lawan bicara. Curahkan perhatian dan pikiran anda pada pembicara dan isi yang ingin disampaikan. Acuhkan suara-suara lain di sekitar anda.

Dengarkan hanya pada satu pembicara. Bila ada banyak pembicara, pusatkan perhatian hanya pada satu pembicaraan pada satu waktu tertentu. Anda tak bisa mendengarkan banyak orang pada saat yang bersamaan.

Dengarkan dengan pikiran dan hati terbuka. Mendengarkan menuntut kesediaan dan kerelaan anda. Kualitas pribadi anda tampak dari bagaimana anda mendengarkan lawan bicara. Anda hanya dapat memahami maksud orang lain hanya bila pikiran dan hati anda terbuka.

Jangan mendengarkan untuk memberi pendapat. Terlebih lagi, jangan berpura-pura mendengarkan hanya untuk menunggu waktu yang tepat untuk menyela, membantah dan mendebat lawan bicara.

Tahan diri anda. Ini bagian yang paling berat. Kendalikan nafsu anda untuk berbicara. Biarkan lawan bicara menuntaskan pembicaraannya. Meski anda gatal ingin mengomentari, sebaiknya tetap santai saja. Bila anda mulai kesal dan marah, sampaikan ketidaksetujuan anda dengan tegas. Tak ada gunanya mendengarkan saat marah.

Perhatikan bahasa tubuh. Tunjukkan bahasa tubuh yang terbuka. Hadapkan tubuh anda pada pembicara. Hilangkan perintang antara anda dan pembicara, seperti kursi, meja, juga tangan bersendekap di dada. Lakukan kontak mata. Amati intonasi dan bahasa tubuh pembicara untuk mendapatkan lebih banyak pemahaman.

Berikan pertanyaan terbuka, bukan penilaian. Bila anda ingin menyela, lakukan dengan memberikan pertanyaan terbuka (open question). Seperti, “Mengapa anda tidak setuju dengan bagian ini.”

Biarkan ada jeda. Saat pembicara berhenti sejenak, tak perlu terburu-buru untuk berbicara. Gunakan waktu jeda untuk berpikir dan menemukan pengertian. Biarkan lawan bicara melanjutkan pembicaraan. Berbicaralah saat benar-benar lawan bicara anda menuntaskan pesannya.

Ulangi perkataan mereka. Tentu saja anda tak harus diam seribu bahasa. Anda tetap bisa berinteraksi. Anda bisa mengucapkan sesuatu untuk memberikan tekanan, perhatian, mengulangi, bertanya. Bahkan, ucapan, oh ya?, begitukah?, sungguh?, hmmm…, perlu anda sampaikan.

Buat catatan. Tak semuanya bisa anda ingat. Sesekali anda bisa mencatat hal-hal penting. Anda bisa meminta lawan bicara berhenti sejenak agar anda bisa mencatat dengan baik.

Jika Anda Takut Atau Malas Menelpon Pelanggan

Beberapa salesman malas menelpon ulang calon pelanggannya dikarenakan menganggap hal ini cuma akan membuang-buang waktu saja. Sebenarnya merekalah yang sedang membuang-buang kesempatan untuk berhubungan dengan pelanggan.

Takut Atau Malas Menelepon Pelanggan

Saya bukanlah seorang salesman yang baik. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang dipikirkan oleh pelanggan saat berhubungan dengan salesman. Mudah-mudahan bisa bermanfaat bagi para salesman.

Begini, suatu siang saya mendapat telpon dari seorang tenaga penjual dari sebuah kantor kartu kredit. Saya tahu, ia akan menawari saya semacam pinjaman lunak. Saya pernah mengambil pinjaman tersebut satu kali. Itu pun sudah sangat lama sekali. Setelah itu saya tidak pernah mengambil pinjaman seperti itu lagi, meski berkali-kali kantor kartu kredit itu menelpon dan menawari. Saya menolak tawaran mereka karena memang sedang tidak ada keperluan.

Biasanya saya memberi sedikit waktu bagi salesman untuk menerangkan tawaran mereka. Lalu saya sampaikan bahwa saya sedang tidak memerlukan. Seperti yang anda duga, salesman akan merajuk dan sedikit memaksa. Namun karena saya benar-benar tidak memerlukan saya berkata tegas bahwa saya tidak bisa mengambil tawaran tersebut.

Siang itu saya sedang rapat manajemen dan tidak bisa diganggu. Ketika telpon genggam saya berdering, saya keluar ruangan dan menerima telpon. Di seberang, seorang salesman, lebih tepatnya seorang perempuan memperkenalkan diri, memastikan nama saya dan mulai menawari saya pinjaman lunak. Tanpa menunggu lebih lama, saya katakan bahwa saya sedang rapat dan tidak diganggu. Saya minta ia menelpon kembali saat rehat, sekitar jam tiga siang. Si salesman mengiyakan dan mengatakan akan menelpon saya jam tiga siang. Kemudian percakapan terputus.

Jam tiga siang saya rehat. Sembari merenggangkan pikiran, saya menunggu-nunggu telpon dari salesman kartu kredit yang tadi menawarkan pinjaman lunak. Sampai jam rehat selesai, ia tidak menelpon saya. Bahkan sampai rapat usai, saya masih menunggu telpon dari salesman tersebut.

Mengapa saya menunggu telpon dari salesman kartu kredit tadi? Pertama karena saya sedang berpikir untuk mengambil pinjaman lunak yang ditawarkan. Kedua, saya sudah berjanji dan menyediakan waktu di jam tiga. Ketika saya tahu si salesman tidak jua menelpon sesuai waktu yang ditentukan, saya sedikit kecewa. Saya pun punya beberapa pandangan negatif tentang salesman tadi, sebagai berikut:

  • Ia tidak sungguh-sungguh menawarkan produk atau jasanya
  • Ia kurang gigih dalam menjalankan tugasnya
  • Ia tidak bisa menepati janji dan tidak bisa dipercaya
  • Ia tidak menjaga reputasi diri dan perusahaan tempatnya bekerja
  • Ia bersikap tidak profesional
  • Ia tidak berusaha melayani dan memuaskan pelanggan
  • Ia kurang serius dalam menepon pelanggan
  • Ia meremehkan kesediaan saya untuk ditelpon kembali
  • Ia mengabaikan kesempatan yang sudah diberikan
  • dan lain-lain

Apakah anda, sebagai salesman, pernah berhadapan dengan seorang pelanggan seperti yang saya ceritakan di atas? Jika ya, apakah anda akan menelpon saya di jam tiga siang? Atau, anda menganggap saya secara halus sedang menolak anda dan merasa tidak ada gunanya menelpon saya kembali? Jika anda tidak menelpon saya lagi, pikirkan hal ini:

Bukankah anda sudah berjanji untuk menelpon? Janji harus ditepati. Itu adalah sikap seorang profesional. Meski mungkin pelanggan tidak jadi membeli produk anda, anda tetap harus menunjukkan sikap sungguh-sungguh ingin berhubungan dengan pelanggan.

Pelanggan membutuhkan produk anda. Pelanggan yang meminta anda menelpon kembali tidak selalu berarti sedang secara halus menolak anda. Mungkin saja ia sedang sangat sibuk namun sebenarnya ingin lebih tahu tentang produk anda sehingga ia menyediakan waktu yang lebih longgar.

Anda mendapat kesempatan kedua yang lebih baik. Mungkin anda merasa kehilangan kesempatan pertama. Namun bukankah pelanggan memberikan anda kesempatan kedua yang lebih baik, dimana anda bisa berbicara dan menawarkan produk dengan lebih jelas dan leluasa.

Pelanggan memberikan waktu yang lebih longgar bagi anda. Mungkin waktu yang disediakan oleh pelanggan tidak match dengan jadwal anda sendiri. Namun anda harus mempertimbangkan, bahwa tidak akan ada kesempatan ketiga. Jadi jangan sia-siakan kesempatan ini.

Anda bisa merencanakan lebih baik. Bersyukurlah karena kini anda punya rentang waktu untuk mempersiapkan penawaran anda lebih baik lagi. Selama menunggu waktu yang telah ditentukan anda bisa berlatih, berlatih dan berlatih lebih baik.

Salesman yang sukses tidak akan menyia-nyiakan kesempatan meski sangat sempit. Salesman yang buruk tidak akan menelpon balik karena menganggap ia telah ditolak dan hanya akan membuang-buang waktu saja. Tapi, bukankah itu semua hanya anggapan saja? Jangan buang kesempatan berdasarkan anggapan atau asumsi. Bisa jadi anggapan tersebut berasal dari rasa malas atau takut saja. Padahal kita tahu, dua hal yang menghadang kita dari keberhasilan adalah malas dan takut. Semoga sukses.

Bedanya Entrepreneur dari Non-Entrepreneur

entrepreneurship dan non

Sifat-sifat apa yang membedakan seorang entrepreneur dengan non-entrepreneur? Dulu diyakini, entrepreneur adalah orang yang mempunyai “need for achievement” atau keinginan untuk meraih prestasi lebih tinggi, juga seorang “risk taker” atau lebih berani mengambil resiko dibanding non-entrepreneur. Pendapat ini dipatahkan ketika penelitian menunjukkan bahwa banyak non-entrepreneur, seperti manajer, politisi, dan lain-lain yang mempunyai jabatan tinggi juga menampilkan “need for achievement” yang tinggi pula.

Kini berbagai penelitian meyakini bahwa yang membedakan seorang entrepreneur dari non-entrepreneur adalah keinginan untuk mengendalikan nasibnya sendiri. Keinginan yang kuat untuk bertindak mandiri adalah alasan utama seseorang menjadi entrepreneur.

William D. Bygrave dalam tulisannya “The Entrepreneurial Process” untuk buku ” The Portable MBA in Entrepreneurship” dalam istilah yang sederhana mencoba memaparkan 10 karakteristik entrepreneur yang sukses. Ia menyebutkan dalam istilah “The 10Ds” dengan penjelasan sebagai berikut:

Dream (impian, visi). Entrepreneur adalah orang yang memiliki impian atau visi tentang diri dan usaha mereka di masa depan. Mereka tahu apa yang diinginkan. Mereka tahu apa yang akan dicapai. Terlebih penting lagi, mereka mempunyai kemampuan untuk mewujudkan impian tersebut.

Decisiveness (berani mengambil keputusan). Entrepreneur tak suka menunda-nunda. Mereka membuat keputusan sesegera mungkin. Kecepatan dalam mengambil keputusan adalah faktor kuncu keberhasilan mereka.

Doers (berani bertindak). Begitu suatu keputusan dibuat, mereka bertindak mewujudkan keputusan tersebut secepat mungkin.

Determination (tekad kuat). Entrepreneur adalah orang yang tak mudah menyerah meski dihadapkan pada rintangan yang tampaknya mustahil dipecahkan. Mereka mempunyai tekad kuat dan memberikan komitmen total pada usahanya.

Dedication (dedikasi). Dalam menjalankan usahanya, mereka memberikan dedikasi secara total, hingga tak jarang harus mengorbankan hubungannya dengan keluarga dan teman-teman. Mereka bekerja tanpa kenal lelah. Bekerja selama 24 jam sehari dan 7 hari seminggu bukanlah hal yang aneh bagi seorang entrepreneur dalam membangun usaha.

Devotion (cinta). Entrepreneur adalah orang yang mencintai apa yang mereka kerjakan. Kecintaan itulah yang membuatnya bertahan di masa-masa sulit. Kecintaan pada hasil karya merekalah yang membuat mereka mampu menjual produk atau jasa mereka secara efektif.

Details (detail). Entrepreneur adalah orang yang sangat detail dalam berbagai hal. Mereka mempertimbangkan aspek-aspek bisnisnya dengan penuh pertimbangan dan cermat. Mereka tidak main-main atau bertindak sembrono.

Destiny (menentukan nasib sendiri). Mereka ingin berdiri di atas kaki mereka sendiri ketimbang menggantungkan nasibnya pada majikan atau orang lain.

Dollars (Rupiah). Sesungguhnya menjadi kaya bukanlah motivasi utama seorang menjadi entrepreneur. Uang tak lebih dari sekedar ukuran keberhasilan. Mereka beranggapan keberhasilan pastilah mendapat imbalan yang setimpal.

Distribute (berbagi). Entrepreneur tidak menjalankan semuanya sendiri. Justru mereka membagikan pengelolaan bahkan kepemilikan bisnis mereka pada karyawan-karyawan yang dianggap penting bagi keberhasilan usaha.

Berapa “D” yang melekat dalam diri anda?

Entrepreneur Mindset

Entrepreneur adalah orang dengan semangat kewirausahaan, yaitu menemukan peluang, menciptakan usaha, berani mengambil resiko dan pernuh tekad untuk mewujudkan tujuannya.

entrepreneur mindset

Mengingat peran dan sepak terjangnya yang mengesankan, banyak penelitian dilakukan untuk mengetahui apa-apa yang menjadi karakter seorang entrepreneur sukses. Daftar ini bisa sangat panjang dan seolah tiada habisnya ditambahkan. Berikut 6 karakter yang harus dimiliki oleh seorang entrepreneur sebagaimana yang dikutip dari berbagai pendapat mengenai entrepreneurship.

1. Percaya diri.

Menjadi seorang entrepreneur bukan pekerjaan ringan. Entreprenenur selalu menghadapi tantangan dan masalah. Namun entrepreneur tidak mudah menyerah. Mereka selalu bersikap penuh percaya diri dan berusaha sekuat tenaga serta teguh dalam mengatasi setiap masalah. Kepercayaan diri tidak datang begitu saja. Ia berasal dari kepribadian yang matang, terlatih serta sehat.

2. Fokus pada tujuan/hasil.

Entrepreneur selalu fokus pada tujuan-tujuannya. Ia berorientasi pada pencapaian hasil. Haus akan prestasi. Entrepreneur mempunyai jiwa yang teguh, penuh tekad dan tekun dalam bekerja keras, selalu memiliki energi tinggi dan motivasi dalam menyelesaikan tugas-tugasnya. Ada kalanya bisnis tidak berjalan sebagaimana yang diharapkan, namun kegagalan tidak melemahkan jiwa seorang entrepreneur. Ulet, tabah dan gigih adalah kunci seorang entrepreneur untuk bangkit dan terus mengejar impiannya.

3. Berani mengambil resiko.

Dunia wirausaha penuh dengan resiko dan ketidakpastian. Tidak ada yang bisa menjamin seorang entrepreneur akan memperoleh penghasilan tetap setiap bulannya. Malah selalu ada resiko kegagalan yang membayangi usaha. Seorang entrepreneur berani mengambil resiko karena tahu di balik tantangan dan kesulitan selalu terdapat keberhasilan dan kemuliaan. Namun entrepreneur bukanlah seorang penjudi. Keberanian mengambil resiko harus dibarengi dengan perhitungan yang cermat serta pertimbangan yang masak.

4. Berjiwa pemimpin.

Inilah tugas utama seorang entrepreneur: memimpin. Meski sebuah usaha mungkin dimulai dan dikerjakan sendiri, namun tujuan-tujuan tidak bisa dicapai sendirian. Entrepreneur tahu bahwa tujuan hanya dapat dicapai dengan bekerja sama dengan orang-orang lain, seperti bawahan, rekanan, pemasok dan pelanggan. Kepemimpinan adalah proses untuk mempengaruhi dan menciptakan cara agar semua orang dapat memberikan kontribusi terbaik demi tercapainya tujuan-tujuan usaha Anda.

5. Kreatif dan inovatif.

Hal yang mengagumkan dari para entrepreneur sukses adalah kreativitas mereka. Bill Gates, Steve Jobs, Richard Branson, Ir Ciputra, Bob Sadino adalah orang-orang yang tak pernah berhenti beraktivitas, menemukan hal-hal dan cara-cara baru yang mempengaruhi kehidupan orang banyak. Mereka bukan sekedar berpikir melainkan juga bertindak untuk membuat kreativitas dan inovasinya menjadi ada.

6. Visioner.

Sebuah usaha tidak didirikan untuk sementara waktu, tetapi untuk berkesinambungan. Entrepreneur mempunyai visi jauh ke depan. Tahu apa yang ingin diraihnya di masa depan dan selalu berusaha menuntun serta mengembangkan perusahaannya berjalan berdasarkan cita-cita. Karena masa depan adalah tujuannya, entrepreneur sejati menolak melakukan praktek-praktek bisnis kotor yang akan menjerumuskan perusahaannya ke dalam kehancuran. Sebaliknya, ia selalu menyusun langkah-langkah dan strategi agar perusahaannya dapat hidup selamanya.

Daftar karakteristik entrepreneur sukses ini dapat ditulis lebih panjang, mengingat begitu banyaknya kualitas yang dibutuhkan. Penelitian masih terus dilakukan untuk mengetahui dan menularkan apa-apa yang perlu dimiliki agar seorang entrepreneur mempunyai karakter sukses. Jika Anda mempunyai opini menarik, mengapa tidak membagikannya di sini?

7 Hal Entrepreneurship Yang Dapat Dipelajari dari Steve Jobs

7 entrepreneurship steve jobs

Tak habis-habisnya orang membicarakan Steve Jobs. Suka atau tidak, Steve Jobs adalah seorang entrepreneur besar di bidang teknologi. Apple dan Pixar adalah dua perusahaan yang pernah didirikan dan disentuhnya menjadi perusahaan besar yang bernilai tinggi dan memberikan keuntungan yang luar biasa mengagumkan.

Steve Jobs pun adalah seorang inovator yang menggagas berbagai perangkat dan paten-paten menarik. Produk-produk yang dihasilkan bersama perusahaan Apple, seperti iPod, iPhone, iPad, iTunes telah banyak mengubah cara orang berinteraksi, meningkatkan produktivitas dan menikmati kehidupan. Bahkan toko retail Apple Store yang didirikannya ditiru banyak perusahaan lain.

Ada banyak tulisan tentang Steve Jobs berikut kutipan-kutipan terkenalnya yang menggambarkan bagaimana ia bisa melakukan semua keberhasilan itu. Ruang di sini tak cukup untuk membahas seluruh pemikirannya. Namun 7 pelajaran entrepreneurship terpilih dari Steve Jobs berikut mudah-mudah dapat mencerminkan dan menginspirasi kita.

Fokus, fokus, fokus. “That’s been one of my mantras: focus and simplicity”, inilah sihir Steve Jobs yang paling ampuh. Kehebatan fokus tergambar dari kondisi perusahaan Apple yang bernilai lebih dari 30 milyar USD, namun hanya memiliki tak lebih dari 30 jenis item produk saja. Bandingkan dengan perusahaan lain yang berlomba-lomba membuat produk sebanyak-banyaknya demi memenangkan pasar. Fokus membuat Apple benar-benar bisa memusatkan perhatian hanya pada produk terbaik. Bukan hanya terbaik, melainkan terhebat.

Sederhana dan lebih sederhana lagi. Simplicity atau kesederhanaan adalah mantra sakti kedua dari Steve Jobs. Filosofi ini tercetak pada brosur pemasaran Apple pertama kali, “Simplicity is the ultimate sophistication”. Banyak orang menganggap sesuatu yang kompleks dan penuh variasi lebih baik dibanding kesederhanaan. Pada kenyataannya, untuk menemukan kesederhanaan dibutuhkan upaya keras dan sangat terfokus. Perhatikan desain produk-produk Apple yang sederhana. Ia tampak klasik dan tak mudah lekang dimakan waktu. Bandingkan dengan produk-produk lain yang menampilkan desain rumit dan tampak canggih itu, ia segera tampak membosankan dan perlu diganti dengan yang baru.

Katakan, tidak. Diperlukan keteguhan hati yang sangat keras dalam mempertahankan prinsip “focus and simplicity”. Sebagai petinggi perusahaan, kita dapat membayangkan Steve Jobs selalu kebanjiran ide, usul dan proposal, baik tentang produk, sistem maupun layanan. Namun hanya dengan sedikit produk utama yang dihasilkan Apple, tentu kita juga dapat membayangkan betapa Steve Jobs adalah tukang jagal berdarah dingin yang tega mengatakan “tidak” pada semua itu dan tetap fokus pada apa yang diyakininya sebagai yang terbaik. Namun demikian, Steve Jobs tetap mengakui bahwa itu bukan untuk meremeh ide-ide tersebut, sebagaimana kutipan kalimatnya berikut, “I’m as proud of what we don’t do as I am of what we do.”

Tuntut yang terbaik. Dalam berbagai buku dan tulisan tentang biografinya, Steve Jobs dikenal sebagai seorang yang sangat.. sangat sulit. Ia sendiri mengatakan, “My job is not to be easy on people. My job is to make them better.” Menuntut yang terbaik adalah keharusan bila kita ingin menghasilkan produk-produk terbaik. Tak heran jika Apple dikenal sebagai perusahaan gudang profesional kelas A+. Banyak mantan pekerja Apple yang ternyata sukses dengan perusahaannya sendiri. Seperti, Reid Hoffman, pembesut LinkedIn, situs jejaring sosial kaum profesional. Bahkan Andy Rubin, penggagas Android yang menjadi lawan tangguh IOS milik Apple adalah mantan engineer Apple.

Gigih sejak awal sampai akhir. “I’m conviced that about half of what separates the successful entrepreneurs from the non-successful ones is pure perseverance,” jelas Steve Jobs. Yang membedakan seseorang yang sukses dan yang tak sukses adalah kegigihannya dalam memperjuangkan ide dan keyakinannya.

Dahulukan produk, kemudian profit. “My passion has been to build an enduring company where people were motivated to make great products. Everything else was secondary,” adalah pernyataan penuh keberanian Steve Jobs sebagai seorang entrepreneur yang meyakini bahwa semestinya keuntungan perusahaan datang dari produk-produk hebat. Dalam bukunya “Inside Apple”, Adam Lashinsky menulis “Apple tidak pernah berbicara tentang Apple. Apple berbicara tentang produk Apple.”

Ciptakan pasar anda sendiri. Jauh sebelum teori Blue Ocean dirumuskan, Steve Jobs telah meyakini perlunya bermain di lautan sendiri. Idiom terkenal dari Steve Jobs tentang hal ini terdengar agak arogan, “The consumer doesn’t know what he or she wants until we make it”, namun itulah yang membuat produk-produk Apple berbeda dan digemari banyak orang.

Adakah yang bisa anda petik sebagai inspirasi untuk menjalankan usaha anda hari ini?

Jangan Menjadi Bos Yang Menyebalkan

Pernahkah anda mengamati perilaku kebanyakan entrepreneur? Dari kacamata positif, mereka biasanya tampil penuh kebanggaan dan percaya diri. Berbeda dengan seorang pegawai yang seringkali merasa khawatir akan kehilangan pekerjaannya. Entrepreneur tak takut pada apa yang akan terjadi karena mereka tak bergantung pada siapa-siapa selain diri mereka sendiri. Mereka siap dan berani menanggung resiko-resiko yang telah diperhitungkan. Mereka telah menempa mental menjadi kuat.

bos Yang Menyebalkan

Di sisi lain, keberhasilan dan sikap mental yang meluap-luap membuat beberapa entrepreneur merasa memiliki kedudukan lebih tinggi dibanding orang lain, terutama pegawainya sendiri. Mereka berpikir mereka mempunyai kekuasaan atas pegawainya. Bahkan tak sedikit yang menganggap mereka bisa mengendalikan nasib pegawainya. Pola pikir semacam ini membuat beberapa entrepreneur bertindak “bossy” atau sok menjadi bos yang menyebalkan dan suka membully bawahannya.

Tindakan entrepreneur yang “bossy” semacam ini tentu tidak disukai pegawainya. Pada ujungnya bisa merugikan perusahaan karena pegawai tidak akan bekerja dengan sepenuh hati. Berikut beberapa hal berikut untuk menghindarkan anda menjadi bos yang menyebalkan.

Jangan suka mempermalukan orang lain. Bos yang menyebalkan suka mempermalukan orang lain di depan umum. Ia senang menghina, menghancurkan harga diri dan merusak ego orang lain, terutama bawahannya. Mereka merasa lebih unggul, lebih tinggi dan lebih berkuasa sehingga menganggap bisa melakukan apa saja. Namun hal ini tidak akan menjadikan perusahaan lebih baik. Sebaliknya, orang lain dan karyawan akan menanam bibit dendam pada sang entrepreneur dan perusahaan. Dendam itu bisa terbalaskan. Dan bila itu terjadi, akan merugikan perusahaan dan reputasi sang entrepreneur.

Jangan meremehkan pekerjaan orang lain. Pelayan restoran, kasir toko, juru parkir, petugas keamanan dan berbagai profesi lain seringkali dianggap rendah dan jadi obyek penghinaan oleh bos yang menyebalkan. Mereka tidak menyadari bahwa pekerjaan-pekerjaan itu adalah bagian yang tak kalah penting dalam suatu perjalanan usaha.

Jangan bergaul dengan bos-bos yang menyebalkan. Sikap menyebalkan akan menemukan pembenaran saat seorang bos bergaul dengan bos-bos lain yang tak kalah menyebalkan. Agar terhindar dari perilaku buruk ini, seorang entrepreneur harus pandai-pandai menjaga jarak dan pergaulan dari bos-bos yang menyebalkan pula. Selain itu, tak perlu bersusah payah mengubah bos lain yang menyebalkan menjadi lebih beradab. Tinggalkan saja mereka daripada tertular.

Ada banyak pekerjaan yang tidak bisa anda kerjakan dengan baik. Bos-bos yang menyebalkan suka menutup mata bahwa sebenarnya mereka tidak bisa melakukan semua hal sendiri. Bahkan ada banyak pekerjaan yang mereka tidak bisa mengerjakannya dengan baik, malah sangat buruk. Sadarilah bahwa seorang entrepreneur tetap membutuhkan orang yang mampu bekerja lebih baik. Itu bisa menumbuhkan sikap hormat pada orang lain.

Temukan kesamaan bukan perbedaan. Di antara kita yang berbeda ini selalu bisa direkatkan dengan kesamaan-kesamaan. Itu bisa berupa kesamaan ide, tujuan, kegemaran dan lain-lain. Merasa sama membuat seseorang tidak sendiri. Sebaliknya memusatkan perhatian pada perbedaan-perbedaan hanya akan memperkeruh suasana hati. Hati yang keruh adalah sarang sikap-sikap yang menyebalkan.

Fokus pada situasi menang-menang. Selalu berpikir dan berupaya untuk menciptakan situasi menang-menang adalah tanda kematangan seorang entrepreneur. Bila seorang entrepreneur hanya berpikir untuk kemenangan dirinya sendiri dan berupaya untuk mengalahkan orang lain, maka apa bedanya mereka dengan anak kecil yang cuma ingin merebut kelereng teman-temannya. Justru entrepreneur yang berjiwa besar menyadari bahwa hidup ini saling terhubungkan dan saling bergantung satu sama lain. Saat saling membutuhkan, tidak ada pihak lain yang harus dikorbakan.

Sadari apakah anda sudah cukup bahagia? Semua sikap “bossy” yang menyebalkan itu biasanya bermula dari masalah psikologis yang diderita oleh sang entrepreneur itu sendiri. Mereka mungkin memiliki masa lalu yang kurang mengenakkan, jiwanya diselimuti oleh rasa tak puas, iri, takut, cemas, dan lain-lain. Oleh karena temukan kebahagiaan, maka sedikit demi sedikit sikap menyebalkan itu akan hanyut dan hilang.

Seorang entrepreneur semestinya membangun perusahaannya dengan penuh adab dan etika. Tujuan sebuah bisnis tidak semata untuk memenangkan persaingan, mendulang laba sebanyak-banyaknya, melainkan menjalankan sebuah peran penting bagi kehidupan. Itu dimulai dari diri sang pengusaha itu sendiri dalam berpikir, bertindak dan bersikap. Menjadi bos yang menyebalkan bukanlah pilihan saat seorang entrepreneur ingin menjalankan usahanya dengan sehat, menjaga reputasi dan integritas yang mulia.

Cara Lain Salesman Sukses Mengatasi Rasa Takut

Kita tahu pandangan umum yang negatif tentang salesman. Hal ini ternyata bisa mempengaruhi pandangan salesman tentang diri dan profesinya sendiri, yang ujung-ujungnya menimbulkan rasa takut. Atasi rasa takut dengan tips berikut.

Cara Lain Mengatasi Rasa Takut

Menjual bukanlah kegiatan yang gampang, terutama bagi pemula. Bahkan sebelum melakukan proses menjual mereka biasanya mengalami beragam sindrom atau rasa takut. Takut karena tidak tahu harus berbuat apa. Takut kalau-kalau diremehkan. Takut dagangannya ditolak dan tidak laku.

Mengatasi rasa takut adalah ilmu pertama yang harus dimiliki oleh para salesman sebelum melakukan yang lain. Salesman ini bukan hanya berarti penjual barang, tapi juga bisa menjual diri sendiri. Contohlah artis kondang seperti awkarin atau Karin Novilda, yang berhasil mengatasi rasa takutnya dengan kemampuannya menjual potensi diri melalui Instagram. Kemampuan ini diperlukan oleh entrepreneur, artis, maupun profesional seperti Anda.

Berikut beberapa rasa takut dan tips cara mengatasinya.

Takut diacuhkan karena anda seorang salesman. Salesman seringkali dianggap sebagai pengganggu sehingga calon pelanggan atau prospek mengacuhkan kehadiran anda. Terimalah pandangan ini dan ketahui mengapa orang menolak kehadiran salesman. Banyak salesman diacuhkan karena kurang mengenal prospek. Pilih secara cermat pihak-pihak yang akan anda bidik sebagai prospek. Persiapkan pertemuan dengan baik. Rencanakan waktu yang tepat bagi kedua belah pihak. Pastikan prospek dalam keadaan siap menerima anda. Saat bertemu, jangan terburu-buru menawarkan produk dan mendesak prospek. Biarkan suasana mengalir relaks. Beri waktu bagi prospek untuk berbicara lebih banyak daripada anda.

Takut diremehkan. Kunci untuk mengatasi perasaan takut diremehkan oleh prospek adalah dengan meningkatkan rasa percaya diri. Ada tiga hal yang perlu anda kembangkan. Pertama, perbaiki penampilan anda. Kenakan busana yang rapi, nyaman, bila perlu sama seperti prospek. Kedua, tunjukkan bahasa tubuh yang baik. Pelajari bagaimana cara berjabat tangan, tersenyum, bertatap muka dan lain-lain. Ketiga, miliki pandangan positif bahwa kehadiran anda bukan sekedar untuk menawarkan produk melainkan membantu memecahkan masalah prospek.

Takut tidak tahu harus melakukan apa. Apakah anda merasa seperti tentara maju perang tanpa membawa senjata? Ini pertanda anda harus melakukan persiapan yang matang. Ikuti pelatihan tentang teknik penjualan, pemahaman produk, serta bagaimana menguasai demo produk. Berlatih, berlatih dan berlatihlah sampai anda benar-benar menguasai produk atau jasa yang akan anda tawarkan.

Takut penjualan anda tak berhasil atau ditolak. Sadari bahwa tidak ada salesman yang tidak pernah ditolak. Yang membedakan salesman sukses dan pemula adalah mereka ingin tahu apa yang menyebabkan prospek menolak penawarannya. Apakah prospek menolak produknya, dirinya, atau cara menyampaikan penawaran. Dengan demikian mereka bisa memperbaiki kekurangan dan lebih siap dalam menghadapi prospek lebih lanjut. Sedangkan pemula biasanya menganggap penolakan sebagai akhir dari karirnya.

Takut dianggap suka memaksa. Salah satu hal yang menyebalkan dari banyak salesman adalah mereka suka memaksa, bahkan terkesan hanya demi mengejar order. Untuk mengatasi hal ini, bersikaplah sabar. Jangan terburu-buru. Tunjukkan perhatian anda pada prospek. Biarkan prospek berbicara lebih banyak sembari anda mencari tahu apa yang sebenarnya mereka butuhkan. Biarkan semuanya mengalir hingga prospek merasa bisa mempercayai anda. Kembangkan percakapan yang menyenangkan. Sediakan waktu anda sepenuhnya untuk prospek. Pada saatnya, tawarkan produk anda.

Takut tidak bisa menjawab pertanyaan prospek. Meski anda sudah melakukan persiapan sebaik mungkin, tetap saja prospek mengajukan pertanyaan atau keberatan-keberatan. Belajarlah dari pengalaman-pengalaman senior anda. Ketahui apa-apa yang biasanya menjadi pertanyaan, keberatan dan penolakan. Jika ada pertanyaan atau keberatan yang tidak sesuai dengan kenyataan, jangan berdebat atau membantah. Gali terus pertanyaan prospek sampai anda benar-benar paham dan bisa menangkapnya secara sederhana. Jika anda tidak bisa menjawab pertanyaan sulit, tawarkan apakah prospek ingin jawaban segera. Jika ya, segera hubungi kantor dan minta keputusan.

Takut dianggap pembohong. Apakah anda memang pernah berbohong? Jika tidak, semestinya anda tidak perlu terlalu khawatir dengan anggapan ini. Namun demikian, anda tetap harus bisa mengatasi hal ini. Caranya, buat daftar para klien atau pelanggan yang puas atas pelayanan anda. Minta referensi dari pelanggan-pelanggan anda terdahulu. Tunjukkan pujian atau ucapan terima kasih tersebut pada prospek secara halus. Hindari kesan menyombongkan diri. Tujuan anda adalah membangun rasa percaya di antara anda dan prospek. Bukan untuk memamerkan kehebatan anda.

Takut tak bisa memenuhi janji. Ketakutan ini biasanya muncul karena anda bersikap berlebih-lebihan dalam menawarkan keunggulan produk dan layanan anda pada prospek. Dengan kata lain, anda membual. Ingat, ini bukan zaman tukang obat berjualan di pasar malam. Anda harus tahu dengan sebenar-benarnya tentang keunggulan dan kualitas produk serta jaminan layanan penjualan. Jangan karena ingin mendapatkan order, anda menjanjikan sesuatu yang akan anda langgar di kemudian hari. Bersikaplah secara profesional. Berjalanlah di atas prosedur. Tetaplah teguh memegang komitmen.

Yakinkan diri anda bukanlah seorang salesman yang menganggu waktu prospek. Anda adalah seorang yang mempunyai solusi untuk masalah yang dihadapi prospek. Anda dan prospek berdiri sama sederajat. Anda dan prospek adalah dua belah pihak yang sedang melakukan kesepakatan yang saling menguntungkan. Tidak ada alasan anda takut saat berhadapan dengan prospek. Jika anda tetap merasa takut, itu pertanda anda harus melakukan persiapan lebih baik lagi. Semoga sukses.

Kunci Keberhasilan Sebuah Bisnis

Acapkali kita terkagum-kagum pada sebuah perusahaan yang tumbuh pesat dan berkembang besar, padahal pada awalnya ia hanyalah usaha kecil saja. Apa yang menyebabkan ada suatu usaha yang baru didirikan bisa berkembang lebih baik dibanding usaha lain? Tentu ada “rahasia” atau resep keberhasilan mereka.

kunci keberhasilan bisnis

Di sekitar tahun 1985, Rosabeth Kanter, seorang peneliti kewirausahaan, dalam bukunya “Change Masters: Innovation and Entrepreneurship in the American Corporation”, menulis formula 4F yang diyakini sebagai resep keberhasilan sebuah usaha baru. Formula itu dikembangkan oleh William D. Bygrave, dalam artikel “The Entrepreneurial Process”, yang dimuat di “The Portable MBA in Entrepreneurship” menjadi 9F sebagai berikut:

Founders (entrepreneur). Seorang entrepreneur adalah faktor terutama dan terpenting bagi perkembangan usaha. Di balik setiap perusahaan yang berhasil selalu ada seorang entrepreneur yang hebat. Mereka mempunyai sifat-sifat luar biasa, salah satunya mempunyai visi dan tekad yang kuat.

Focused (fokus). Faktor kunci berikut yang menentukan keberhasilan sebuah usaha adalah pasar. Perusahaan yang sukses adalah perusahaan yang memfokuskan diri pada ceruk pasar yang spesifik, jelas dan terspesialisasi.

Fast (gesit). Perusahaan yang sukses mampu membuat keputusan secara cepat, dan bertindak untuk mewujudkan keputusan itu dengan gesit.

Flexible (fleksibel). Mereka selalu membuka pikiran terhadap berbagai ide baru serta mampu menanggapi perubahan. Sifat fleksibel ini lahir dari kemampuan untuk bertindak secara gesit. Bandingkan dengan perusahaan besar yang seringkali lambat dalam menghadapi perubahan, perusahaan kecil justru lebih luwes dalam berubah.

Forever-innovating (selalu berinovasi). Mereka tak kenal lelah melakukan inovasi. Mereka selalu berusaha menggali kreativitas, menemukan cara berpikir, metode, produk dan layanan-layanan baru, terutama demi memuaskan pelanggan. Tahukah anda bahwa justru perusahaan-perusahaan kecil-lah yang menemukan banyak inovasi yang kemudian dibeli dan dikembangkan oleh perusahaan besar.

Flat (sederhana). Entrepreneur yang sukses membangun organisasi perusahaannya dengan sederhana. Mereka tidak merepotkan perusahaan dengan birokrasi dan prosedur yang berbelit-belit. Team manajemen mereka flat. Karyawan dapat menghubungi pimpinan perusahaan secara mudah. Dengan demikian tukar menukar ide dapat mengalir lebih deras.

Frugal (hemat). Perusahaan besar yang sekarang tampak bergelimang arus kas selalu dimulai dari perusahaan kecil yang hidup dengan hemat dan cermat. Perusahaan yang sukses pandai menjaga agar biaya operasi mereka tetap rendah, tanpa menurunkan produktivitas mereka.

Friendly (bersahabat). Perusahaan yang sukses tidak bisa berjalan sendiri. Keberhasilan mereka pasti didukung oleh pelanggan, pemasok dan karyawan. Untuk mendapatkan dukungan yang baik tersebut, pastilah mereka mempunyai sifat yang bersahabat, pandai bergaul dan suka berteman. Perusahaan yang angkuh hanya akan melahirkan musuh-musuh bagi diri mereka sendiri.

Fun (menyenangkan). Entrepreneur adalah orang yang mencintai apa yang mereka kerjaka. Mereka pun menjalankan usahanya dengan penuh kecintaan dan rasa senang. Hal ini pulalah yang menjadi resep keberhasilan suatu perusahaan; yaitu dijalankan dengan penuh kegembiraan.

Kini bersiapkah anda membuka usaha dan menjadi sukses?

Rakyat Memimpikan Pemimpin Yang Baik

Kinerja partai politik menggerus kepercayaan rakyat. Partisipasi politik pun merosot. Hal ini menandakan konsolidasi demokrasi tersendat di tubuh partai, juga tertatih di tingkat akar rumput. Namun, masyarakat pun tak akan terus diam jika demokrasi dipangkas hanya sebatas prosedur tanpa substansi.

Dalam 33 ajang pemilihan kepala daerah di Jawa Barat pada 2005-2011, hampir separuh pesertanya merupakan pasangan calon perseorangan atau nonpartai. Namun, calon perseorangan hanya menang pada satu pilkada, yakni pasangan Aceng Fikri-Dicky Chandra memenangi Pilkada Kabupaten Garut (2008).

Terpilihnya calon perseorangan itu diyakini menandakan kekecewaan masyarakat pada kinerja partai politik di Garut. Pandangan tersebut juga tak dimungkiri kalangan parpol. ”Semua partai di Garut rusak, tidak ada dukungan penuh partai pada calon-calon yang diajukan. Akhirnya yang menang calon perseorangan,” ujar Ketua DPD Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Jawa Barat Rudy Harsa Tanaya.

Namun, dua tahun setelah memerintah, Bupati Garut ini justru bergabung dalam kepengurusan Partai Golkar Jawa Barat. Guru Besar Ilmu Politik Universitas Padjadjaran Dede Mariana berpendapat, bergabungnya Aceng dalam pengurusan Golkar tersebut terkait dengan lemahnya dukungan politik dari DPRD Garut kepada Bupati. Kesulitan Bupati itu menunjukkan kegagalan politisi di DPRD memahami makna kepentingan publik.

Secara umum di berbagai daerah lain di Jawa Barat, pilkada lebih banyak dimenangi petahana atau orang yang didukung petahana. Dari 33 pilkada, 17 pilkada dimenangi petahana (bupati), belum termasuk yang dimenangi petahana wakil bupati dan keluarga bupati.

Terpilihnya kembali petahana sebenarnya tidak berkorelasi dengan kepuasan masyarakat terhadap kinerjanya dalam kepemimpinan daerah. Hal itu dapat disimpulkan dari perkembangan pembangunan yang belum signifikan di daerah yang masih dimenangi petahana di Jabar.

Supadi, pengemudi becak di Kapetakan, Cirebon, misalnya, tetap memberikan suaranya untuk bupati petahana yang diusung PDI-P meskipun belum ada perubahan lebih baik di kampungnya. Saat paceklik tiba, buruh tani di daerahnya juga masih kesusahan. Bahkan mereka pun beralih makan nasi aking karena beras kian mahal.

”Saya bertahan milih PDI-P, karena masih ada harapan yang saya pilih bisa mengubah kesusahan kami. Kan mereka juga dari orang susah,” katanya.

Meskipun masih ada dominasi parpol besar dan petahana, mulai tampak kecenderungan menurunnya kepercayaan masyarakat pada patron politik di daerahnya. Di Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, Partai Persatuan Pembangunan (PPP) memang tak tergeser dari perolehan suara tertinggi sejak era reformasi dalam pemilihan anggota legislatif dan pilkada. Namun, berbeda dengan beberapa pilkada sebelumnya, pada pilkada 9 Januari 2011 pasangan calon yang diusung PPP bersama PDI-P terpilih sebagai pemenang hanya dengan mengantongi 32 persen suara atau tidak dipilih mayoritas pemilih.

Koordinator Tasik Corruption Watch Dadih Abdulhadi menilai hal itu menunjukkan melemahnya pengaruh kiai yang selama ini turut mendongkrak perolehan suara PPP. ”Pengaruh kiai turun drastis karena kepercayaan kepada kiai yang berpolitik luntur. Masyarakat mulai belajar menentukan pilihan sendiri,” ujarnya.

Di Kota Cirebon, jumlah kursi untuk PDI-P di DPRD juga turun dari enam kursi (2004) menjadi lima kursi (2009). Jumlah kursi Partai Golkar di Kota Cirebon juga merosot dari delapan kursi (2004) menjadi lima kursi (2009). PPP dan PKB bahkan sama sekali kehilangan kursi di DPRD Kota Cirebon.

Sementara itu, di Kabupaten Cirebon, PKB yang menguasai kantong-kantong pesantren tak bisa melebarkan sayap mengambil suara di luar dinding pesantren. Hal itu diyakini terkait dengan kesenjangan ekonomi dan sosial yang tak bisa dijembatani kalangan santri.

Pesantren-pesantren di Cirebon dikelilingi daerah yang tergolong miskin. Pesantren Buntet yang berada di Desa Buntet, Kecamatan Astana Japura, Kabupaten Cirebon, bahkan bersebelahan dengan kampung pengemis di Desa Sidamulya. Pada bulan Ramadhan, anak-anak usia sekolah di kampung itu membolos untuk mengemis di jalanan. Kawasan tersebut memang daerah pertanian tadah hujan yang tak banyak menjanjikan kesejahteraan.

Menurunnya dukungan pada partai besar yang sebelumnya mendominasi juga tak lepas dari fenomena pemilih muda yang tidak lagi mengacu pada patron.

Para pemilih muda relatif kritis terhadap isu politik, termasuk korupsi. Namun, mereka cenderung enggan memberikan suara pada pemilu atau pilkada. Selain ketidakpercayaan pada partai, hal itu juga disebabkan para pemilih muda kesulitan menjangkau informasi seputar figur yang dicalonkan partai.

Akibatnya, partisipasi pemilih pun merosot. Di Kabupaten Tasikmalaya, misalnya, partisipasi pemilih pada Pilkada 2006 terhitung 73 persen. Tingkat partisipasi itu merosot pada pilkada Januari 2011 menjadi 62 persen.

Sebenarnya, harapan untuk menemukan pemimpin yang dapat dicintai tak pernah mati. Dengan caranya sendiri, masyarakat, terutama pemilih muda, juga berusaha menemukan pemimpin dan wakil rakyat yang lebih baik. Nana (19), mahasiswa di Kota Cirebon, mengaku memilih Partai Demokrat 2009 karena tokoh Susilo Bambang Yudhoyono yang ia anggap berkinerja baik. Namun, kini Nana tidak yakin akan kembali memilih Demokrat karena dianggapnya tak lagi berprestasi.

Sementara Subhan (19), juga mahasiswa di Cirebon, memilih Partai Keadilan Sejahtera (PKS) karena menilai partai itu lebih nyata bekerja di masyarakat.

Ketua Majelis Pakar DPC PPP Kabupaten Tasikmalaya Basuki Rakhmat mengakui, partai-partai lama yang mengandalkan pemilih tradisional memang akan kehabisan dukungan suara. Pemilih PPP di Tasikmalaya, misalnya, kebanyakan berusia di atas 45 tahun. Karena itu, partai seperti PPP memang harus mulai merancang program untuk menggaet pemilih pemula.

Menurut Basuki, dalam pencalonan kepala daerah, misalnya, elite partai cenderung amat cair dalam urusan berkoalisi dengan partai lain. Namun, di tingkat akar rumput sangat mungkin terjadi penolakan. Itu bisa menjadi perkara yang luput dari pertimbangan elite partai.

Ketua DPD PDI-P Jabar Rudy Harsa juga mengakui pentingnya memperkuat kelembagaan partai di tingkat akar rumput. ”Harus ditingkatkan juga persentuhan anggota DPRD I, II, dan anggota DPR (pusat) dengan rakyat di daerah pemilihan mereka. Jangan cuma Bu Megawati bicara, tetapi mesin partai enggak berbuat apa-apa di bawah,” ujarnya.

Budayawan Cirebon, Ahmad S Alwy, mengingatkan, pemilih rasional sebenarnya hanya akan ada apabila parpol juga memberikan pilihan yang rasional.

Kredibilitas Inti Kepemimpinan Unggul

Saya terkejut membaca berbagai harian dan agak prihatin dengan keinginan beberapa anggota DPR yang mau membubarkan KPK. Hal ini menunjukkan arogansi yang seharusnya mengedepankan kepentingan rakyat dengan ikut memberantas korupsi dan bukan menjadi bagian yang menghalanginya.

Merajalelanya kasus korupsi menunjukkan lemahnya kualitas kepemimpinan di Indonesia, di mana karakter dan kredibilitas yang seharusnya menjadi inti (DNA) kepemimpinan saat ini menjadi barang langka dan diabaikan. Kepemimpinan saat ini lebih ditekankan pada kedudukan, kekayaan, dan perkoncoan. Ini merupakan hasil pembinaan kepemimpinan selama Orde Baru.

Kepemimpinan terkait dengan adanya hubungan pengaruh antara pemimpin dan pengikut. Hubungan ini ditentukan oleh kedudukan dan pribadi sang pemimpin. Dari sisi kedudukan, seorang pemimpin diikuti perintahnya karena jabatannya mengandung legitimasi untuk memerintah, kemampuan memberikan imbalan dalam bentuk harta/kekuasaan, kemampuan memberikan sanksi/hukuman jika perintahnya tidak diikuti, dan hubungannya dengan seorang yang memiliki kekuasaan serta harta, yang dikenal dengan referent power.

Dari sisi pribadi, pemimpin dipatuhi oleh pengikutnya karena kharisma atau kredibilitasnya. Kharisma menjadi bahan diskusi, karena banyak pemimpin dengan karya besar yang secara nyata tidak memiliki kharisma bawaan sejak lahir, tapi terbentuk karena kredibilitas tinggi yang dimilikinya.

Di Indonesia, pemimpin cenderung diikuti karena kedudukannya, yaitu jabatan, kekayaan, dan hubungannya dengan penguasa. Akibatnya, terjadi arogansi kekuasaan, korupsi merajalela, dan ketidakadilan di mana-mana. Siapa kuat dia tetap berkuasa walaupun sudah jelas melakukan penyelewengan.

Masalah kredibilitas (termasuk harga diri) lupakan saja. Bekas narapidana karena membunuh dan korupsi pun masih dihormati dan disanjung-sanjung. Selama kita hanya menghargai kedudukan dan harta maka Indonesia tidak akan maju, karena akan dipimpin orang-orang tanpa kredibilitas, yang hanya memikirkan kepentingan sendiri dan kelompoknya, tanpa memikirkan kepentingan bangsa atau rakyat.

Watak Mulia

Prinsip universal merupakan prinsip yang mendasari hubungan antarmanusia agar dapat hidup bersama secara selaras dan sejahtera, seperti kejujuran, keadilan, kebersamaan, tanggung jawab, ketegasaan, empati, dan saling menolong/memberi. Sebagai manusia kita bebas memilih, apakah akan hidup sesuai prinsip universal atau tidak. Kita boleh melanggar hukum gravitasi dan hukum alam yang lain, tetapi kita akan celaka. Demikian juga kita boleh melanggar prinsip universal dengan akibat timbulnya konflik, kekacauan, kemiskinan, dan kesengsaraan.

Pemimpin yang unggul akan mengutamakan watak mulia dengan berpedoman pada prinsip universal dalam tingkah lakunya, terutama kejujuran, keadilan, dan kebersamaan.

Setelah memiliki watak mulia, seorang pemimpin agar efektif perlu mengembangkan kompetensi memimpin dan kompetensi profesi. Pembinaan kepemimpinan di Indonesia umumnya hanya ditujukan meningkatkan kedua kompetensi ini dan sering mengabaikan pembinaan watak mulia ataupun kredibilitas, yang sebenarnya menjadi inti atau DNA (pemberi sifat) dari kepemimpinan unggul.

Untuk membangun watak mulia bagi calon pemimpin Indonesia masa depan, pertama, orangtua di rumah perlu menjadi teladan tentang prinsip-prinsip universal bagi putra putrinya. Kedua, pemerintah menanamkan prinsip-prinsip universal melalui pendidikan budi pekerti, yang dimulai dari pendidikan dasar. Ketiga, media massa ikut menanamkan nilai-nilai universal, baik melalui TV, media cetak, radio, film, maupun media elektonik lainnya. Keempat, perlu disusun sistem pembinaan kepemimpinan berbasis kredibilitas bagi para calon pemimpin bangsa, seperti mahasiswa, anggota partai politik, pejabat pemerintah, dan pejabat BUMN.

Kelima, masyarakat mengubah cara pandang yang lebih menghargai watak mulia daripada jabatan dan harta, serta pilihlah pemimpin yang berwatak mulia.

Upaya di atas bersifat pembinaan yang membutuhkan waktu lama. Oleh karena itu, upaya ini harus tetap diiringi gerakan pemberantasan korupsi dalam berbagai bentuk, termasuk upaya yang ditempuh KPK. Perlu diingat tiada bangsa yang dapat maju dan sejahtera jika korupsi masih merajalela.